CEO Mayapada Group: Hidup Menciptakan Nilai Tambah & Kesehjatraan Bagi Orang Banyak

Dato Sri Tahir CEO dari Mayapada Group

Assalamu’allaikum….

Rizensia.com – CEO Mayapada Group Dato’ Sri Tahir, membagikan prinsip dalam kehidupannya. Dimana dengan prinsip ini menjadikan ia sebagai orang yang sukses dan membuat perusahaannya terus bertumbuh hingga saat ini.

Dato’ Sri Tahir, mengaku bahwa dirinya adalah orang yang sangat disiplin dalam kesehariannya bahkan hingga usianya hampir menginjak 66 tahun.

Ia menceritakan kebiasaannya dalam kehidupan sehari-hari yang begitu disiplin dalam acara bertajuk “Supermentor-21: What the Future Looks Like”, di Grand Sahid Jaya Hotel pada 18 Februari 2018 tahun lalu.

“Saya ini nggak disiplin. Saya super disiplin. Setiap pagi saya bangun on time pukul 5.30, paling lambat pukul 5.45. Lalu, saya baca koran Mandarin, Inggris, Indonesia. Semua kejadian di negeri ini, baik itu militer, politik, budaya, saya pelajari. Kenapa? Karena ada (rasa) tanggung jawab pada diri saya. Saya tidak mau jadi orang normal. Saya mau menjadi orang yang lebih dari normal,” ujarnya

Ia menambahkan, bahawa rasa kedisiplinan ini muncul akibat dari rasa tanggung jawab yang ia tanamkan dalam dirinya.

Ia menekankan, manusia terendah justru adalah mereka yang ingin menjadi dirinya sendiri, yaitu orang-orang yang memiliki prinsip “be yourself”.

Mengapa demikian? Karena menurutnya “Manusia yang berada di tingkat atas adalah manusia yang dikontrol oleh tanggung jawabnya. Bukan orang dengan prinsip be yourself.”

“Jadilah manusia yang berprinsip be somebody else. Tanggung jawab itu lebih tinggi dari kesenangan dan hobi Anda,” kata Tahir.

Bahkan untuk menggambarkan maksud dari perkataannya, ia menggambarkan seorang direktur yang bekerja diperusahaannya.

Tanpa menyebutkan nama Direktur tersebut datang kepada Tahir untuk meminta cuti selama 1 bulan dengan alasan stres. Sebagai pemimpin, Tahir bukannya menegur atau mengiyakan, tetapi ia hanya tertawa dan mengajak direktur itu melihat jalan raya dari jendela ruang kerjanya.

“Saya bilang, lihat di bawah banyak tukang ojek, banyak orang yang mendorong gerobak untuk menjual barangnya. Saya bilang sama direktur itu, ‘Anda cuti 1 bulan, alasannya karena stres. Tapi orang-orang di bawah itu, tukang ojek, tukang jualan, dia tidak pernah tahu kata stres di kamusnya. Yang dia tau adalah kalau hari ini saya tidak tarik ojek, kalau saya tidak jualan, maka anak saya tidak bisa hidup.’ Manusia harus berada di bawah tanggung jawabnya, bukan menjadi diri sendiri (dan bertindak semaunya),” katanya.

Ia mengatakan, manusia harus menentukan tujuan hidup dengan tepat. Jangan sampai memutar balikkan tujuan hidup dengan prasarana hidup. Menurut Tahir, tujuan hidup bukanlah menjadi sesuatu, seperti presiden, profesor, ataupun orang terkaya di dunia. Itu semua hanyalah prasarana hidup. “Tujuan hidup manusia adalah untuk menciptakan nilai tambah dan kesejahteraan untuk banyak orang. Buatlah orang lain bahagia,” katanya yang kemudian disambut tepuk tangan meriah dari para peserta Supermentor-21 kala itu seperti dikutip dari Tempo.co.

(Visited 16 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *