Nilai Perusahaan XL, Indosat, Smartfren; Kalah Telak Dengan Nilai StartUp Seperti Gojek

Gojek

Assalamu’allaikum……

Rizensia.com – Jika beberapa tahun silam tepatnya memasuki tahun 2000an sampai 2014, masyarakat Indonesia sering membahas masalah operator telekomunikasi. Karena pada saat itu telekomunikasi lagi gencar-gencarnya membangun dan masyarakat baru mengenal namanya Handphone dan Smartphone.

Hal ini tentunya membuat perusahaan telekomunikasi menjadi begitu seksi dinegeri ini, setidaknya pada rentan tahun itu perusahaan telekomunikasi bergonta-ganti kepemilikan, ekspansi mengembangkan jaringan pun baru dimulai, dan perang tarif pun begitu ramai saat itu serta keuntungan perusahaan telekomunikasi begitu besar saat rentang tahun itu.

Kemudian, inilah yang membuat publik Indonesia tertujuh perhatiannya kepada perusahaan telekomunikasi seperti Telkom, Telkomsel, Indosat, XL, Axiata, Axis, Smart, Fren, Esia, Sampurna Telekomunikasi.

Setidaknya ketikan itu, harga perusahaan dan aset-asetnya begitu besar. Belum lagi potensi pasar begitu besar sehingga investor asing dari Singapura, Malaysia, Qatar, Arab Saudi, dan Thailand begitu berhasrat menguasai operator-operator Indonesia.

Jadi tak heran jika di Telkomsel kepemilikan sahamnya ada Telkom Indonesia sekitar 65% dan Singtel (Singapura) 35%. Kemudian di Indosat kelemilikan saham 65% saham dikuasai oleh Ooredoo (Qatar), TM Malaysia melalui Axiata menguasai mayoritas saham XL Axiata dan Axis ketika itu masih berupa operator dikuasai oleh Arab Saudi.

Akan tetapi memasuki tahun 2014 ke saat ini 2018, operator yang ketika itu begitu seksi sekarang tersingkirkan oleh kehadiran startup unicorn Indonesia seperti Gojek.

Hal ini disampaikan oleh mantan Presiden Direktur Indosat yang sekarang menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, dimana ia mengklaim nilai perusahaan (valuasi) empat unicorn di Indonesia sudah melampaui empat perusahaan telekomunikasi di Indonesia.

Empat operator tersebut, di antaranya PT Indosat Tbk, PT XL Axiata Tbk, PT Smartfren Telecom, dan 3 Hutchinson.

“Indosat sudah 30 tahun lalu berdirinya, XL 20 tahun lalu berdirinya,” ucap Rudiantara, Selasa (9/5). Dikutip dari CNN Indonesia.

Sementara, keempat unicorn yang dimaksud Rudiantara masih terbilang baru atau belum mencapai 10 tahun, yakni Gojek, Traveloka, Bukalapak, dan Tokopedia.

Unicorn merupakan perusahaan rintisan (startup) yang memiliki nilai valuasi di atas US$1 miliar.

“Nilai kapitalisasi pasar (market capitalization/market cap) empat perusahaan operator juga kalah dari empat unicorn itu,” sambung Rudiantara.

Tiga dari empat perusahaan operator telekomunikasi tersebut merupakan perusahaan terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ketiga perusahaan tersebut, yakni Indosat, XL Axiata, dan Smartfren.

Mengutip data BEI per Selasa (8/5), nilai kapitalisasi XL Axiata sebesar Rp19,18 triliun, Indosat sebesar Rp18,68 triliun, dan Smartfren sebesar Rp5,91 triliun.

Sementara dilihat dari sisi aset masing-masing emiten sepanjang 2017, XL Axiata memiliki aset sebesar Rp56,32 triliun, Indosat sebesar Rp50,66 triliun, dan Smartfren sebesar Rp20,7 triliun.

Hal ini berbeda dengan Gojek yang memiliki nilai perusahaan yang hampir mencapai US$ 5 Miliar atau sebesar Rp 60 Triliun per (11/4).

Akan tetapi jika Gojek dibandingkan dengan Telkom, maka yang menang adalah Telkom karena memiliki nilai perusahaan sebasar Rp 463,68 triliun pada 14 Juli 2017.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *