Info Palu, InfoIs

MUI Kota Palu: Bicara ‘Islam Nusantara’

Assalamu’allaikum…..

Prof. H. Zainal Abidin M.Ag. via Amat Radinov

Rizensia.com – Islam Nusantara yang di perkenalkan oleh ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU) menjadi sorotan bagi sebagian muslim Indonesia, banyak yang gagal paham akan maksud dari istilah Islam Nusantara. Bahkan tak jarang ada yang mengatakan bahwa Islam Nusantara adalah aliran agama, padahal tidak seperti itu.

Hal ini membuat ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Prof Dr H Zainal Abidin MAg mengemukakan tentang ‘Islam Nusantara’, yang hanyalah suatu istilah dimana tidak mengurangi substansi Islam.

“Tidak ada masalah apabila ada yang menolak Islam Nusantara. Islam Nusantara itu hanya-lah istilah atau penamaan atas Islam di Indonesia,” ujarnya di Palu, terkait adanya penolakan terhadap `Islam Nusantara’, Kamis.

Rois Syuria Nahdlatul Ulama Sulawesi Tengah itu menilai `Islam Nusantara` bukanlah hal yang baru dalam Islam, atau suatu aliran dan paham yang datang belakangan di Indonesia.

Rektor pertama IAIN Palu itu menuturkan, `Islam Nusantara` dapat dikatakan sebagai suatu metode dakwah. Dimana, pembawa ajaran Islam ke Indonesia menggunakan pendekatan tradisi dan budaya di nusantara.

“Islam Nusantara adalah manhaj atau jalan pikiran para pembawa agama Islam di Indonesia, `Islam Nusantara` itu adalah metode dakwah,” tambahnya. Seperti dikutip dari Antarasulteng.com

Karena itu, sebutnya tidak perlu diperdebatkan atau diperselisihkan, karena `Islam Nusantara` istilah yang tidak berperanguh terhadap substansi dalam anjuran-anjuran Islam.

Dengan demikian, menurut dia, `Islam Nusantara` tidak bertabrakan dengan alquran dan hadits, bahkan `Islam Nusantara` menjadi metode untuk menumbuhkan toleransi antarumat umat beragama, antarsuku dan budaya.

Karena itu, konsepsi Islam Nusantara yaitu Islam yang sejalan dengan tradisi yang dianut oleh masyarakat di nusantara atau di NKRI.

Atas hal itu, maka `Islam Nusantara` memiliki pendekatan yang berbeda dengan Islam yang ada di luar negeri atau diluar dari nusantara/negara lain. Mengapa muncul perbedaan? hal itu karena berbeda tradisi dan khasanah budaya.

“Islam menjunjung tinggi budaya dan tradisi yang dianut oleh masyarakat selama tradisi dan budaya itu tidak bertabrakan dengan alquran dan hadits,” sebut Prof Zainal Abidin.

Dewan Pakar Pengurus Besar Alkhairaat itu mencontohkan di Indonesia ada halal bihalal, ada peringatan maulid dan masih banyak tradisi lainnya, yang hanya ada di Indonesia, namun tidak ada di negara lain.

Oleh karena itu, Ketua MUI Palu itu menegaskan tidak perlu diperdebatkan atau dipertentangkan, karena `Islam Nusantara` tidak mempengaruhi atau mengurangi substansi dari Islam itu sendiri.

Bagaimana? Jadi paham dengan maksud penggunaan istilah ‘Islam Nusantara’???

Sumber : Antarasulteng.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *