Keuntungan Menggunakan Bahan Bakar Biodiesel 20% (B20)

Ilustrasi Biodiesel 20%. Foto: Achmad Dwi Afriyadi

Assalamu’allaikum…..

Rizensia.com – Pemerintah belum lama ini memperkenalkan bahan bakar solar yang dicampurkan dengan minyak sawit sekitar 20%. Bahan bakar ini lebih dikenal dengan nama Biodiesel 20% (B20).

Tepat pada 1 September 2018, pemerintah melalui PT Pertamina (Persero) resmi menyalurkan campuran sawit ke solar atau B20 di berbagai SPBU. Sehingga semua kendaraan yang berbahan bakar Solar, bisa menggunakan B20.

Kemunculan penganjuran penggunaan B20 oleh pemerintah yakni demi memperbaiki neraca perdagangan Indonesia yang terus bergantung pada Solar dari luar negeri dan tujuan lainnya yakni demi menghemat pendapatan devisa negara hingga US$ 5,5 miliar pada tahun depan.

Nah, seperti Rizensia kutip dari Jitunews berikut keuntungan dari penggunaan B20 pada mesin diesel Anda.

Ramah Terhadap Lingkungan

Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, mengungkapkan, selain memberikan kontribusi dalam mengurangi emisi karbondioksida (CO2) hingga 6 sampai 9 juta ton per tahun dibanding dengan penggunaan solar murni (B0), penggunaan B20 juga dapat memperbaiki kualitas proses pembakaran kendaraan bermotor.

“Selain mengurangi emisi CO2, pembakaran dengan B20 juga lebih efisien dibanding penggunaan B0. Bahan bakar jauh lebih bagus, harga juga sama. Secara teknis juga tidak ada masalah. Uji coba yang dilakukan tahun 2014 lalu bahkan menunjukkan kinerja kendaraan yang tidak berubah signifikan dalam uji 40.000 km non stop,” ungkap Dadan, di Jakarta.

Dadan menyebut, meskipun nilai kalorinya sedikit lebih rendah, untuk pemakaian B20 tidak terlalu beda dalam konsumsi bahan bakarnya.

“Dari beberapa uji coba, kenaikan konsumsi bahan bakarnya tidak banyak, hanya 1-2% saja,” ujarnya.

B20 Pembersih Kerak Pada Kendaraan

Ditambahkan lagi oleh dadan, “Biodiesel merupakan senyawa ester yang bersifat melarutkan. Pemanfaatan biodiesel justru dapat membersihkan kerak dan kotoran yang tertinggal pada mesin, saluran bahan bakar dan tangki. Inilah yang menjadikan filter jadi cepat kotor di awal penggunaan B20. Setelah dibersihkan atau diganti, tidak akan ada masalah lagi. Mesin tidak akan rusak atau korosi,” katanya.

Hanya saja kendala akan muncul kepada konsumen baru yang sebelumnya menggunakan solar non PSO dan berganti ke Biodiesel 20% (B20), seperti terjadi pada genset pabrik dan angkutan laut.

“Perlu diantisipasi bagi pengguna baru yang sebelumnya memakai solar murni, ada kemungkinan filter yang kotor, itu hanya sekali atau dua kali,” ungkap Dadan.

Jadi, tegas Dadan, keperluan penggantian filter ini tetap sama dengan sewaktu menggunakan BBM tanpa biodiesel.

Terkait hasil uji yang dilakukan, Dadan menguraikan, kajian terhadap sistem bahan bakar dengan metode rig test, kompabilitas material, kestabilan penyimpanan dan uji pada mesin alat besar, diperoleh hasil bahwa implementasi B20 telah layak diterapkan tanpa memerlukan modifikasi mesin yang signifikan.

(Visited 3 times, 1 visits today)

Berikan Komentar Terbaikmu