Industri Parawisata, Masa Depan Penggerak Ekonomi Indonesia

Konsep Kampung Kaili Kota Palu.

Assalamu’allaikum…..

Rizensia.com – Indonesia dengan bentangan alam yang begitu luas dan indah, sudah sepatutnya menjadi negara destinasi utama parawisata dunia. Mau cari apa di Indonesia, alam bersalju? ada tuh salju abadi di Papua, Mau cari laut? Sangat banyak potensi pantai dan spot menyelam, berselancar dan lain sebagainya di Indonesia. Wisata pegunungan, savana, danau, dan lain-lainnya? Sangat banyak tersedia di Indonesia.

Hanya saja, dari potensi wisata-wisata tersebut banyak tantangan yang perlu dihadapi, seperti sarana dan prasarana, kesiapan masyarakat, dan bekerjasama dengan pemerintah dalam pengembangan daerah wisata dan lain sebagainya.

Data dari Badan Pusat Statitsik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia sepanjang tahun 2017 sebanyak 14,03 juta kunjungan, atau meningkat 21,88 persen dibanding tahun sebelumnya, yakni 11,51 juta kunjungan.

Meski demikian, jumlah tersebut hanya mampu meraih 93,53 persen dari total target kunjungan wisman tahun 2017 sebanyak 15 juta kunjungan.

Kemudian, pemerintah menargetkan kembali di tahun 2018 sebanyak 17 Juta kunjungan, dimana jenjang antara bulan January sampai Mei Indonesia baru mendapat pencapaian kumulatif sebanyak 6,17 juta orang. Jumlah ini masih jauh dari target.

Pemerintah sendiri dalam beberapa tahun terakhir telah mencanangkan pembukaan detinasi-destinasi wisata baru yang biasanya disebut “10 Destinasi Bali Baru”, setidaknya saat ini pemerintah telah mempersiapkan 4 kawasan detinasi baru dari 10 yang ditargetkan yakni Mandalika, Labuan Bajo, Borobudur, dan Danau Toba.

Mandalika NTB. Foto: Mindra Purnomo

Parawisata Sangat Seksi Di Bandingkan Industri Pertambangan dan Migas

Seperti Rizensia kutip dari Investor Daily, Arief Yahya menegaskan, pariwisata menjadi masa depan Indonesia, karena sebagai penyumbang PDB, devisa, dan lapangan kerja yang paling mudah dan murah. Saat ini sektor pariwisata berkontribusi 10% terhadap PDB.

Menurut Arief, angka ini merupakan persentase tertinggi di Asean. Berdasarkan catatan Kemenpar, PDB pariwisata nasional tumbuh 4,8% dengan tren naik sampai 6,9%.

“Angka itu jauh lebih tinggi dari manufaktur, otomotif dan pertambangan. Performa pariwisata terus menanjak dan optimisme itu kian terbentuk,” kata Arief, (3/12/2016).

Potensi Industri Parawisata Tak Diragukan Lagi

Menurut Arief, pada tahun 2016 devisa pariwisata ada di posisi keempat sebagai contributor devisa terbesar, mencapai 9,3%. Pariwisata juga bisa menjadi solusi bagi lapangan kerja. Sektor pariwisata menyumbang 9,8 juta lapangan pekerjaan atau 8,4% dari total angkatan kerja. “Kalau selama ini kategori industry itu menjadi migas dan non migas, ke depan kan menjadi pariwisata dan non pariwisata,” kata Arief.

Sektor pariwisata juga bisa menciptakan kesempatan lapangan kerja hanya dengan US$ 5.000 untuk satu pekerjaaan, jika dibanding dengan rata-rata industri lain yang US$ 100.000 untuk satu pekerjaan.

Arief mengatakan, berdasarkan data World Bank, setiap belanja US$ 1 akan mendorong dan menggerakkan sektor ekonomi lain minimal US$ 3,2. “Pariwisata adalah salah satu penggerak dari sektor utama lainnya, seperti ekonomi, globalisasi, konektivitas, integrasi dan pengembangan social dan ekonomi,” kata Arief. dikutip dari Investor Daily

Dari penyampaian Menteri Parawisata Arief Yahya, sangatlah jelasan bahwa Industri Parawisata begitu menjanjikan untuk mensejahterahkan perekonomian masyarakat Indonesia, karena tak merusak alam justru alam yang indah itu tetap dijaga untuk ditawarkan kepada wisatawan.

Menawarkan Konsep Wisata Halal

Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim, maka konsep wisata halal menjadi salah satu konsep yang paling baik untuk diterapkan di Indonesia.Setidaknya ada banyak keuntungan dari Wisata Halal, seperti Pertama, makanan yang disajikan terbukti sehat dan bersih. Kedua, tempat wisata tidak menyediakan makanan dan minuman beralkohol. Ketiga dengan mengunakan konsep ini selain ramah terhadap anak, dan juga terhindari dari konsep-konsep wisata yang bebas seperti pergaulan bebas, narkoba dan lain sebagainya.

Konsep wisata halal juga sangat cocok dengan budaya ketimuran yang mengedepankan tata kerama, kearifan lokal, dan budaya nusantara.

“Konsep pariwisata halal berarti segala sesuatu yang tidak membahayakan manusia dan lingkungan, yang sesuai dengan koridor aturan Islam,” kata Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan (P-P2Par) Institut Teknologi Bandung (ITB), Budi Faisal, di Bandung, dikutip Rizensia dari lansiran keterangan tertulis yang diterima Dream. Sehingga konsep wisata halal menjadi jalan masa depan penggerak ekonomi Indonesia.

Bagaimana menurut Anda???

Konsep Parawisata Kota Palu “Kampung Kaili”

(Visited 3 times, 1 visits today)

Berikan Komentar Terbaikmu