Teknologi

​Kecerdasan Buatan (AI) Ancaman Atau Tidak?

Ilustrasi Kecerdasan Buatan yang nantinya akan menyerupai manusia, dimana bisa memiliki perasaan dan emosi
Ilustrasi Kecerdasan Buatan yang nantinya akan menyerupai manusia, dimana bisa memiliki perasaan dan emosi

Assalamu’allaikum….

Rizensia.com – Pada tahun 2017 ini salah satu isu yang tengah dibicarakan para pakar teknologi adalah masalah teknologi Kecerdasan Buatan (Artficial Intelligence), dimana para pakar teknologi tersebut terpecah dua menyoal masalah tentang pengembangan AI tersebut. Ada yang pro dan ada yang kontra.

Pihak yang Pro salah satunya adalah Google dimana kata salah satu petingginya perkembangan AI (Kecerdasan Buatan) akan membantu merevolusi industri dunia. 

“Saya berfikir ada kehebohan yang besar soal AI saat ini. Ada orang-orang yang tenpa alasan mempermasalahkan kebangkitan AI,” kata Giannendraa dikutip dari Tech Crunch, Kamis 21/9/2017. Dikutip dari Okezone.com

Selanjutnya ia mengatakan “ Mesin pebelajaran dan kecerdasan buatan (justru) sangat penting dan akan merevolusi industri kita.”

Alasan utama Google mendukung kecerdasan buatan karena menurut mereka ini hanyalah sebuah kumpulan data, sehingga tidak tepat jika teknologi ini disebut seperti itu. Bahasa yang tepat adalah mesin kecerdasan.

Sendangkan pihak yang kontra adalah Bos Tesla, yaitu Elon Musk, dimana menurutnya pengembangan kecerdasan buatan tanpa adanya peraturan yang mengaturnya akan berdampak buruk bagi manusia. Dimana nantinya manusia akan dikuasai oleh Kecerdasan Buatan (AI), bahkan ia menganalogikan AI lebih berbahaya ketimbang Korea Utara.

Dimana dalam Twite bos Tesla itu mengatakan “Kalau Anda tak risau soal keamanan AI, seharusnya Anda merasa demikian. (AI) Jauh lebih beresiko dibandingkan Korea Utara,” tulis Elon Musk pada akun Twitter miliknya. Dikutip dari Kompas.com

Pada Twitenya ia juga mencantumkan sebuah foto seorang peremuan yang khawatir, dan terdapat tulisan “Pada akhirnya, mesin yang akan menang,” Elon Musk pada dasarnya tidak anti terhadap AI, ia pun juga mendanai sebuah startup bernama OpenAI yang bertujuan mendorong pengembangan AI secara bertanggung jawab.

Kemudian pada keterang lainnya, Elon Musk mengungkapkan bahwa “Tidak ada orang yang senang diatur, tapi apapun yang berbahaya bagi publik (mobil, pesawat, makanan, obat, dll) harus diatur. Begitu juga dengan AI.”

“Hambatan terbesar soal mengenali bahaya AI adalah mereka yang terlalu merasa pintar sehingga tak bisa membahayakan orang lain malakukan apa yang tidak bisa mereka lakukan,” pungkas Elon pada Fortune via Kompas.com

Sadar tidak sadar, sekarang dunia memang mulai dikuasai oleh teknologi Kecerdasan Buatan, salah satu produk kecerdasan buatan yang dekat dikehidupan kita adalah Komputer. Meski sekarang komputer belum bisa berbicara secara otomatis kepada kita, mengetahui apa yang kita inginkan. Tapi kedepannya akan seperti itu. 

Dalam sebuah tulisan yang Rizensia dapatkan di Google mengatakan bahwa kecerdasan buatan mulai berkembang di tahun 90-an, saat itu sudah banyak aplikasi yang diterapkan mulai dari games komputer, sistem kontrol cerdas, robotika, serta memecahkan masalah ekonomi dan lain sebagainya.

Ketika Sistem Kecerdasan Di Jadikan Tuhan

Ada yang lebih mencengangkan tentang pengembangan AI, dimana langsung berdampak pada pemahaman orang terhadap Tuhan. Dimana ketika pengembangan sistem kecerdasan buatan semakin maju. Beberapa pihak ada yang mulai percaya akan terjadinya event “Singuarity”, dimana kepintaran komputer telah memudahkan segala urusan manusia sehingga terjadi perubahan besar-besaran terhadap gaya hidup masyarakat.

Hal inilah yang membuat mantan pegawai Google, Anthony Levandowski mendirikan sebuah agama baru yang menjadikan AI sebagai figur Tuhan. Agama yang dimaksud bernama “Way of the Future (Jalan Masa Depan)” ini telah diketahui eksistensinya, dimana dari sebuah dokumen pendirian organisasi yang diajukan ke pemerintah negara California, Amerika Serikat. Seperti yang diberitakan oleh Wired, minggu (1/10/2017).

Tujuan Levandowski membuat organisasi ini adalah untuk “Mengembangkan dan mempromosikan kesadaran tentang figur Tuhan berbasis kecerdasan buatan”. 

Terlepas dari organisasi memfigurkan Kecerdasan Buatan sebagai Tuhan. Menurut Rizensia perkembangan teknologi baik itu sistem kecerdasan buatan (Artficial Intelligence) sangat bermanfaat dan membantu kehidupan manusia, namun seperti yang dijelaskan oleh Elon Musk. Bahwa dalam pengembangan AI perlu ada peraturan untuk mengaturnya, agar kedepannya tak membahayakan kehidupan menusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai Menulis Di Rizensia.com, Daftarkan Diri Anda!
X