InfoIs, Ramadan

Bolehkah Tidak Puasa Saat Mudik?

Ilustrasi. Foto milik Buya Yahya Al Bahjah
Ilustrasi. Foto milik Buya Yahya Al Bahjah

Assalamu’allaikum…..

Rizensia.com – Tidak terasa bulan Ramadan akan meninggalkan kita, bagi Anda yang merantau di luar daerah pasti akan mempersiapkan diri dan keluarga untuk pulang ke kampung halaman.
Mudik sudah menjadi budaya bagi masyarakat Indonesia jika diwaktu lebaran, merayakan lebaran bersama keluarga besar menjadi momen yang paling dinanti-nanti.

Namun dalam melakukan perjalanan jauh bolehkah tidak menunaikan ibadah puasa, mungkin ini menjadi pertanyaan bagi sebagian orang. 

Nah.. pada kesempatan kali ini Rizensia.com akan membagikan jawaban dari Ustadz Buya Yahya pengasuh majelis Al Bahjah tentang “Bolehkah Tidak Puasa Saat Mudik”.

*BOLEHKAH TIDAK PUASA SAAT MUDIK*



Assalamualaikum,, Ustadz Buya benarkah kalo mudik itu bebas tidak puasa? Kalau mudiknya tidak begitu jauh bagaimana Buya, apakah tetap boleh tidak puasa?
 

*Jawaban :

Semua orang yang bepergian boleh meninggalkan puasa dengan ketentuan sebagai berikut ini :

a. Tempat yang dituju dari tempat tinggalnya tidak kurang dari 84 km.
b. Di pagi (saat subuh) hari yang ia ingin tidak berpuasa ia harus sudah berada di perjalanan dan keluar dari wilayah tempat tinggalnya (minimal batas kecamatan.
Misal seseorang tinggal di Cirebon ingin pergi ke Semarang. Antara Cirebon semarang  adalah 200 km (tidak kurang dari 84 km). Ia meninggalkan Cirebon jam 2 malam (sabtu dini hari). Subuh hari itu adalah jam 4 pagi. Pada jam 4 pagi (saat subuh) ia sudah keluar dari Cirebon dan masuk Brebes. Maka di pagi hari sabtu itu ia sudah boleh meninggalkan puasa.

Berbeda jika berangkatnya ke Semarang setelah masuk waktu subuh, sabtu pagi setelah masuk waktu subuh masih di Cirebon. Maka di pagi hari itu ia tidak boleh meninggalkan puasa karena sudah masuk subuh ia masih ada di rumah. Tetapi ia boleh meninggalkan puasa di hari Ahadnya, karena di subuh hari Ahad ia berada di luar wilayahnya.
Catatan :
Seseorang dalam bepergian akan di hukumi mukim (bukan musafir lagi) jika ia niat tinggal di suatu tempat lebih dari 4 hari. Misal orang yang pergi ke Semarang tersebut (dalam contoh) saat di Tegal ia sudah boleh berbuka dan setelah sampai di Semarang juga tetap boleh berbuka asalkan ia tidak bermaksud tinggal di Semarang lebih dari 4 hari.
Jika ia berniat tinggal di Semarang lebih dari 4 hari maka semenjak ia sampai Semarang ia sudah disebut mukim dan tidak boleh meninggalkan puasa dan juga tidak boleh mengqosor sholat. Untuk dihukumi mukim tidak harus menunggu 4 hari seperti kesalah pahaman yang terjadi pada sebagian orang akan tetapi kapan ia sampai tempat tujuan yang ia niat akan tinggal lebih dari 4 hari ia sudah disebut mukim. Siapapun yang berada di perjalanan panjang (tujuannya tidak kurang dari 84 Km) maka saat di perjalanan ia boleh berbuka puasa dan boleh menjamak dan mengqashar shalat (dengan 2 syarat di atas).

Wallahu a’lam bisshowab

Semoga artikel ini bisa membantu Anda…. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai Menulis Di Rizensia.com, Daftarkan Diri Anda!
X