Inspirasi

Pelajaran Bijak : Siapakah Paling Buruk?

Assalamu’allaikum…..

Rizensia.com – Bijak adalah salah satu langkah seseorang ambil dalam menyikapi sesuatu masalah. Pada zaman sekarang sadar atau tidak, bijak mulai ditinggalkan oleh sebagian orang. Apalagi bijak dalam bersosial media adalah salah satu hal yang perlu kita perhatikan pada masa sekarang ini, tak sedikit kata cacian, makian dan hinaan sering terlihat di kolom komentar sosial media pada beranda Facebook, Instagram, dan Twitter kita.

Apakah hal ini menjadi suatu hal yang normal bagi masyarakat kita, padahal sudah dari duluh para orang tua kita memperkenalkan sifat kemajemukan dalam bermasyarakat, kebersamaan yang dikedepankan dibandingkan ambisi tertentu. Sehingga tercipta situasi yang kondusif dan saling menghormati pun terjadi, hal inilah yang membuat Indonesia dikenal dunia.

Kami akan membagikan salah satu kisah, semoga dengan kisah ini membuat kita bisa mengambil pelajaran didalamnya : 

Di sebuah pondok pesantren, terdapat seorang santri yang tengah menuntut ilmu pada seorang Kyai. Sudah bertahun-tahun lamanya si santri belajar tapi dia merasa masih haus akan ilmu. Akhirnya  Kyai memutuskan memberinya serangkaian ujian untuk membuktikan bahwa si Santri benar-benar sudah matang ilmunya.

Ujian pertama, kedua, dan ketikag sudah berhasil diselesaikan. Tinggal satu ujian terakhir yang harus dibereskan si Santri. “Anakku, aku tahu ilmu kamu sudah sangat sempurna,” puji sang Kyai mendapati hasil ujian santrinya.

“Terima kasih Pak Kyai, tapi masih ada satu ujian yang harus saya takluķan,” ujarnya gusar.

“Baiklah, ujian terakhir ini bisa dikatakan gampang-gampang susah, ujar sang kyai penuh teka teki.

Si Santri merasa tak sabar ingin segera menyelesaikan ujian tersebut, karenanya dia terus mendesak agar Sang Kyai,” apa yang harus saya lakukan, Kyai?”tanyanya.

Perlahan Sang Kyai membenarkan posisi duduknya, baiklah dalam tiga hari ini, aku ingin meminta kamu untuk mencarikan seorang ataupun mahluk yang sangat buruk dari kamu, “ujar sang Kyai.

“Tiga hari terlalu lama Kyai, aku bisa menemukan banyak orang atau mahluk yang lebih buruk daripada saya,” jawab Santri penuh percaya diri.

Sang Kyai tersenyum seraya mempersilahkan murindnya membawah seorang ataupun mahluk itu kehadapannya.

Santri keluar dari ruangan Kyai dengan semangat,” hem, ujian yang sangat gampang!”

Hari itu juga, si Santri berjalan menyusuri jalanan ibu kota. Di tengah jalan, dia menemukan seorang pemabuk berat. Menurut pemilik warung yang dijumpainya, orang tersebut selali mabuk-mabukan setiap harinya. Pikiran si Santri sedikit tenang, dalam hatinya dia berkata, “ahay.. pasti dia orang yang lebih buruk dariku, setiap hari dia habiskan hanya untuk mabuk-mabukan, sementara aku selalu rajin beribadah.”

Dalam perjalanan pulang Si Santri kembali berpikir, “ah, kayaknya si pemabuk itu belum tentu lebih buruk dari aku, sekarang dia mabuk-mabukan tapi siapa yang tahu akhir hayatnya Allah justru mendatangkan hidayah hingga dia bisa Husnul Khotimah, sendangkan aku yang sekarang rajin ibadah, kalau diakhir hayatku, Allah justru menghendaki Suul Khotimah, bagaimana? “Huuh…. berarti pemabuk itu belum tentu lebih jelek dari aku, “ujarnya bimbang.

Hari kedua, si Santri kembali melanjutkan perjalanannya mencari orang atau mahluk yang lebih buruk darinya. Di tengah perjalanan, dia menemukan seekor anjung yang menjijikan kerena selain bulunya kusut dan bau, anjing tersebut juga menderita kudisan.

“Ahay…. akhirnya ketemu juga mahluk yang lebih jelek dari aku, anjing tidak hanya haram, tapi juga kudisan dan menjijikkan, “teriak santri dengan girang.

Dengan menggunakan karung beras, si Santri membungkus anjing tersebut dengan memboncengnya ke rumah. Namun malam harinya, tiba-tiba dia kembali berpikir, “anjing ini memang buruk rupa dan kudisan, namun benarkah dia lebih buruk dari aku?” Oh tidak, kalau anjing ini meninggal, maka dia tidak akan masuk ke neraka. Akhirnya si santri menyadari bahwa dirinya belum tentu lebih baik dari anjing tersebut.

Pada hari ketiga, Si santri mencoba kembali mencari orang atau makluk yang lebih jelek darinya. Namun hingga malam tiba, dia tak jua menemukannya. Lama sekali dia berpikir, hingga akhirnya dia memutuskan menemui sang Kyai. ” Bagaimana Anakku, apakah kamu sudah menemuķannya? “Tanya sang Kyai.

“Sudah, Kyai,”jawabnya seraya tertunduk. “Ternyata diantara orang atau mahluk yang menurut saya sangat buruk, saya tetap paling buruk dari mereka,” ujarnya perlahan.

Mendengar jawaban sang Murid, kyai tersenyum lega,”alhamdulillah… kamu dinyatakan lulus dari pondok pesantren ini, anakku,”ujar Kyai terharu.

Hikmahnya adalah selama kita hidup di dunia, jangan pernah bersikap sombong dan merasa lebih baik/mulia dari orang ataupun mahluk lain. Kita tidak pernah tahu, bagaimana akhir hidup yang kita akan jalani. Bisa sekarang kita baik dan mulia, tetapi diakhir hayat justru menjadi mahluk yang seburuk-buruknya. Bisa jadi pula sekarang kita beriman, tapi di akhir hayat, setan berhasil memalingkan wajah kita hingga melupakanNya. Wallahul Mustaan…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *